menoleh ke belakang (1)
May, 26 2009| File under First Post


Saat masih hidup, di akhir pekan, ayah saya sering memasak buat kami sekeluarga. Menunya selalu sama: nasi goreng. Anggaplah itu menu andalan beliau. Well, it is, if not the only one! :p Ayah saya hanya mau membuat nasi goreng dengan bumbu buatan sendiri, tak mau pakai bumbu instan. Sesekali, beliau akan meminta saya untuk membeli cabai atau bawang merah di warung terdekat. Bagi saya, perkara ke warung untuk beli cabai atau bawang merah bukan persoalan besar. Nasi goreng uendang buambang hanya berjarak dua puluh menit setelah saya sampai rumah. Dan, yang terpenting, kami akan menikmati nasi goreng itu bersama-sama, berkumpul di meja makan.

Then nothing else would matter.

Di satu Minggu, saya bangun siang jam sepuluh pagi (Hueh, aneh ya, jam 10 pagi tapi kok dianggap bangun siang). Saya langsung menuju ke ruang tengah yang terhubung dengan dapur kami. Kedip-kedip, masih belum jangkep, saya duduk di dekat ayah saya yang tengah mengulek bumbu nasi goreng. Tak lama kemudian, ibu saya datang dan berujar, “Ya gini deh, ayahnya (yang) masak, anak perawannya bangun siang..”

Bagi ibu saya, saya selalu ‘anak perawan’.

Mereka yang kenal saya akan berani bersaksi bahwa saya tergolong tambeng. Saya, masih kedip-kedip, masih belum jangkep, tak menjawab dan cuma memperhatikan ayah saya mengulek sang bumbu nasi goreng legendaris hingga luluh lantak.

Lalu ibu saya ke kebun belakang untuk memberi makan unicorn-unicorn piaraan kami.

Comment
a very good place to start
May, 26 2009| File under First Post


I kinda erased all previous posts. I just thought, hell, why not?

Comment